Trading Anak SMA Berbeda dengan Mahasiswa
Trading anak SMA berbeda dengan mahasiswa, dimana
karakteristik dalam trading memengaruhi hasil transaksi dan strategi Anda.
Trading Anak SMA
Berbeda dengan Mahasiswa
Tahukah Anda bahwa trader sukses tidak pernah berhenti
belajar? Seorang trader bisa disamakan levelnya dengan anak SMA atau mahasiswa,
dan trading anak SMA berbeda dengan
mahasiswa. Walau sama-sama belajar, trading ala mahasiswa akan berada di
level yang berbeda dengan trading ala anak SMA. Hal ini berkaitan dengan fakta
bahwa trading merupakan aktifitas yang berkisar di lahan atau pasar yang sangat
dinamis dan rawan perubahan kecil atau besar, dengan kemungkinan rugi sama
banyaknya dengan kemungkinan untung.
Seperti telah dijelaskan dalam cara cepat sukses dalam
trading, kemauan untuk belajar merupakan salah satu kunci utama trader sukses.
Trader yang baik bukannya tidak perlu belajar lagi; ia hanya menjadi lebih baik
dalam menerapkan satu strategi trading, untuk kemudian harus belajar lagi di
strategi trading lainnya. Trader yang telah sukses biasanya memiliki karakter
seperti mahasiswa: tidak pernah berhenti belajar, namun jauh lebih dewasa dalam
menyikapi aktifitas trading yang dilakukannya.
Perbedaan Model
Trading Anak SMA dan Mahasiswa
Bayangkan jika Anda seorang trader baru,
gaya trading macam apa yang Anda putuskan? Apakah gaya trading anak SMA, atau
naik tingkat ke gaya trading ala mahasiswa? Berikut alasan mengapa gaya trading anak SMA berbeda dengan mahasiswa:
- Trading ala anak SMA mengandalkan emosi, sementara trading ala mahasiswa mengandalkan logika dan ketenangan. Pasar trading sangat bergejolak (volatile) sehingga posisi yang tadinya nampak menguntungkan bisa mendadak menunjukkan potensi kerugian. Bayangkan jika Anda terlalu cepat ketakutan dan melakukan stop loss, lalu menyesal ketika kondisi pasar ternyata sudah menguntungkan lagi bagi Anda.
- Trading ala anak SMA dilakukan ‘asal tembak,’ sementara trading ala mahasiswa dilakukan dengan perhitungan dan menggunakan rencana trading yang matang. Trading yang sembrono sering dilakukan hanya berdasarkan naluri, sementara trading yang lebih matang dilakukan dengan menerapkan metode trading yang sudah terencana dengan baik, misalnya dengan melakukan backtesting atau mengetes metode trading pada data trading yang sudah lampau.
- Trading ala anak SMA dilakukan dalam kondisi ‘buta’ alias tanpa belajar tentang situasi pasar dan berita-berita global yan memengaruhi pasar. Trading yang lebih matang dilakukan dengan pemahaman dasar tentang kondisi pasar serta kemauan untuk selalu mengetahui berbagai berita penting yang akan memengaruhi kondisi pasar seperti berita ekonomi, sosial dan politik global.
- Trading ala anak SMA biasanya dilakukan dengan banyak stop loss. Dalam situasi dimana kerugian sudah di depan mata, stop loss merupakan langkah yang bermanfaat karena dapat mencegah kerugian lebih lanjut. Akan tetapi, stop loss yang terus menerus justru menunjukkan rasa tidak percaya diri dan sikap takut-takut dalam trading, sehingga akan mencegah Anda memeroleh untung besar dan mendapat keahlian baru.
- Trading ala anak SMA hanya bergantung pada prinsip ‘beli murah, jual mahal,’ alias hanya membeli di harga termurah dan menjual di harga termahal. Hal ini akan mendatangkan kerugian di kemudian hari karena Anda bergerak melawan pasar. Trader yang sudah bergaya mahasiswa akan bersikap lebih matang dan mementingkan strategi bisnis ketimbang teori mudah yang asal diterapkan seperti itu.
Trading anak SMA berbeda dengan mahasiswa; tidak peduli berapapun usia Anda, jika Anda tidak
bersikap matang dan malas belajar serta menolak mengambil resiko, maka Anda
akan selalu menjadi trader yang masih berada di kelas SMA, bukan mahasiswa.

Post a Comment for "Trading Anak SMA Berbeda dengan Mahasiswa"